Sedekah berasal dari kata; ash-shiqu yang berarti benar, baik
dalam perkataan maupun perbuatan. Sedekah adalah amal yang muncul dari hati
yang penuh dengan iman yang benar, niat yang shahih, dan bertujuan untuk
mengharap ridha dari Allah. Dalam maknanya yang umum, sedekah meliputi seluruh
amal kebajikan dan meninggalkan kemungkaran. Makna tersebut dapat kita lihat
antara lain dari sabda Rasulullah SAW.
Abu Zar meriwayatkan bahwasanya beberapa sahabat berkata kepada
Rasulullah SAW “Ya Rasulullah, orang-orang kaya pergi dengan membawa pahala
yang banyak. Mereka mengerjakan sholat sebagaimana yang kami kerjakan, dan
mereka juga dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka. “ Rasulullah
bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan banyak hal yang dapat kalian
sedekahkan?Sesungguhnya setiap ucapan tasih adalah sedekah, setiap bacaan
tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, memerintahkan yang
makruf juga merupakan sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan pada
persetubuhan juga ada nilai sedekah. “Mereka bertanya, “ Ya Rasulullah, apakah
seseorang di antara kami yang menunaikan syahwatnya juga berpahala?” Rasulullah
SAW menjawab, “ Bagaimana pendapat kalian jika ia menempatkannya pada tempat
yang haram, bukankah ia akan berdosa? Demikian pula jika ia meletakkannya pada
sesuatu yang halal, maka ia akan memperoleh pahala. “(H.R.Muslim)
Begitu juga dapat kita cermati dalam sabda Rasulullah Saw
berikut ini: “Setiap ruas tulang manusia harus bersedekah setiap hari selagimatahari
terbit. Kami mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah; menolong
seseorang untuk menaiki kendaraannya adalah sedekah; ucapan yang baik adalah
sedekah; setiap langkah yang diayunkan menuju shalat adalah sedekah; dankamu
menyingkirkan gangguan dari jalan juga sedekah. “(H.R. Al-Nukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menunjukan pintu-pintu sedekah yang sangat
banyak. Setiap orang dapat memperoleh pahala sedekah jika melakukan salah satu
dari hal-hal yang diperincikan oleh Rasulullah Saw tersebut. Bahkan, dalam
keterangan yang lain, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa berjumpa dengan sesama
muslim dengan wajah ceria saja merupakan seekah yang bernilai di sisi Allah
SWT. Pendek kata, sedekah dalam makna ini mencakup seluruh amal saleh, baik yang
zahir maupun yang batin selama sejalan dengan sunah Rasulullah SAW dan
diniatkan semata-mata karena Allah SWT.
Di dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa sendi-sendi manusia
berjumlah tiga ratus enam puluh (tsalasatsu mi’ah wasittun) buah. Sendi-sendi
tersebut menghubungkan berbagai anggota tubuh, sehingga membuat bentuk tubuh
menjadi indah dan mewujudkan kesatuan gerak sendi ternyata membutuhkan asupan
gizi yang cukup, kesatuan gerak. Di samping membutuhkan asupan energi rohani,
sehingga sendi-sendi yang banyak tersebut bergerak untuk beramal kebajikan dan
mudah menghindar dari keburukan. Nah, tahukah anda bahwa sedekah merupakan
asupan gizi bagi sendi-sendi yang dibutuhkan setiap hari?
Imam An-Hawawi menhadirkan keua hadis di atas dalam kitabnya;
Arbai’n An-Nawawi No.25 dan 26. Para peserta didik sudah mengenal hadis di atas
semenjak sekolah dasar. Dari penjelasan para ulama, kita memahami bahwa Imam
An-Nawawi ingin menegaskan pentingnya sedekah demi menjaga dan membentengi
anggota tubuh dari kemaksiatan.
Sebagaimana tersurat secara jelas dalam hadis di atas, setiap
sendi membutuhkan sedekah sebaai konsumsinya. Sehingga kalau kita
menganalogikan pada kebutuhan jasmani untuk gerak fisik, maka ketika gizi dan
vitamin makanan tidak mencukupi, menjadi lesulah anggota tubuh untuk
beraktivitas menyelesaikan tugas-tugas manusiawi. Demikian pula dengan
kebutuhan rohani, ketika sumber energinya tidak diberikan, maka sendi-sendi itu
akan malas untuk beramal kebajikan dan akan mudah dikendalikan oleh setan
melakukan berbagai kejahatan.
Meskipun sebagian besar dari amalan di atas begitu ringan, tidak
berarti setiap orang mampu untuk mengamalkannya. Tidak semua orang mampu,
apalagi istiqamah mengucakan kalimat-kalimat thayibah setiap harinya. Tidak
setiap orang menyiapkan diri untuk shalat berjamaah di masjid. Tidak setiap
orang ringan beramal kebajikan. Oleh sebab itu, untuk mengaplikasikan
amalan-amalan sedekah tersebut dibutuhkan keimanan dan kesadaran. Orang yang
acuh tak acuh terhadap kepentingan umum akan membiarkan sebuah batu di tengah
jalan, meski ia tahu bahwa batu tersebut dapat menyebabkan pengendara sepeda
motor terjatu.
Hari-hari ini mungkin Anda pernah melihat tumpukan pasir
pembangunan rumah pribadi yang memakan setengah jalan umum. Di siang hari,
banyak kendaraan terhambat lewat jika berpapasan. Di dalam hari, beberapa
kendaraan terjatuh karenanya. Sementara si pemilik dan pemborong setali tiga
uang, tidak begitu menggubri persoalan umum. Paling-paling kalau ada kasus
segera minta maaf dan membereskan tumpukan pasirnya.
Kita juga menyaksikan sekelompok orang yang alih-alih
mendamaikan dua pihak yang bertikai, mereka justru memperparah konflik dan
memanfaatkannya untuk kepentingan pribadinya. Jadi, untuk beramal ringan
sebagai sedekah harian bagi tubuh kita, tidak semudah membalikan telapak
tangan.

0 komentar: